Das DrächeleinGeschrieben von Rinrin Rosandi 20 Jun, 2009 10:23:57
Ini dia
Naga Kecil Naga Kecil
riang berlari kakimu yang kecil
kepakkan sayap terbanglah tinggi
gapai dunia penuh harapan
tekad kuat iringi setiap langkahmu
jernih hatimu sebening matamu
lucu wajahmu bersih tak berdosa
tepiskan ragu capailah citamu
jalan yang panjang tidaklah kau gentar
oh naga kecil semburkan api
bakar semangat tuk esok hari
nyalakan pelita terangi jalan
hingga esok mentari bersinar
naga kecil kini kau lelah
tidur segera sebelum jam delapan
pergilah kau kedalam lemarimu
karena esok sekolah lagi
CerminGeschrieben von Rinrin Rosandi 20 Jun, 2009 09:31:02Anak adalah cerminan dari kedua orangtuanya, begitulah mungkin pilosofinya...mengapa anak pertama kami diberi nama Rozan yang berarti cermin. Dari kamus bahasa Arab yang pernah saya baca Rozan juga bermakna "teguh hati" dan "baik hati".
Tahu gak ?.....Ternyata
Rozan merupakan sebuah kota kecil di Polandia.
Nah, inilah Rozan anak pertama kami........

Ada kekhawatiran dalam hati saya saat Rozan menginjak bangku sekolah, dia dinilai lambat sama gurunya saat itu. Satu kali bu Yani (gurunya di kelas 1 SD) bercerita kepada saya, "Rozan itu kalau bel tanda masuk berbunyi, bukannya lari masuk kelas seperti anak lainnya...dia malah tenang saja lenggang kangkung". Pada saat kenaikan kelas, lapornya tidaklah begitu memuaskan........Jika dibanding dengan anak lain, Rozan dibilang kurang rajin, karena dalam tugas menulis anak lain bisa satu lembar penuh latihan menulis, sementara Rozan hanya dua atau tiga baris....dia tidak memiliki motivasi untuk menulis saat itu...
Kekhawatiran saya semakin bertambah, setelah mendengar laporan bahwa Rozan sering menangis di Sekolah........Oh ada apa dengan anakku ini.........
Hari berlalu, musim berganti, tiga tahun terlewatkan tanpa ada tindakan yang berarti untuk menghilangkan kekhawatiran tentang Rozan saat itu, karena saya sibuk mengurus anak kedua kami.....
**************
Ku temukan berlian yang tersembunyi dalam keluarga kami, ketika kami berada di negri orang.
Selesai Rozan kelas 4 SD, suami saya memberitahukan bahwa kami bisa mengikutinya untuk tinggal di Jerman. Rozan tidak begitu semangat berangkat ke Jerman, dia merasa ketakutan karena harus belajar bahasa Jerman.
Agustus 2006 kami tiba di Kaiserslautern Jerman. Di sini tentu saja Rozan harus sekolah, dan seharusnya dia masuk kelas 5. Karena di Jerman kelas 5 sudah termasuk sekolah lanjutan, maka kami putuskan, untuk memasukkan Rozan ke kelas 4 lagi, kami khawatir Rozan mendapat kesulitan bahasa....
Enam bulan berlalu...
Alhamdulillah Rozan tidak mengalami kesulitan yang berarti di sekolahnya, bahkan kelihatannya dia lebih senang, lebih ceria, lebih bersemangat pergi sekolah....
Dalam waktu enam bulan dia sudah bisa berkomunikasi dalam bahasa Jerman.
Di Jerman, untuk melanjutkan sekolah dari sekolah dasar (Grundschule) ke sekolah lanjutan (Gymnasium/Realschule/Hauptschule) tidak diperlukan test. Guru di Grundschule adalah yang memberikan saran ke sekolah mana anak bisa melanjutkan sekolah berdasarkan penilaian sang guru selama anak berada di Grundschule.
Di luar dugaan kami, meskipun Rozan baru enam bulan di Grundschule, guru dan kepala sekolah-nya menyarankan untuk mendaftarkan Rozan ke Gymnasium yang dikhususkan untuk mereka yang memiliki IQ di atas 130 (gifted/hochbegabt). Saat itu saya tidak begitu percaya, sehingga sedikit ragu untuk memasukkannya ke Gymnasium khusus tersebut, takutnya malah keteter, tidak mampu. Tapi suami saya memang sudah menduga sebelumnya bahwa Rozan memiliki tanda-tanda gifted. Akhirnya kami memasukkannya ke sekolah tersebut, yaitu Heinrich Heine Gymnasium - Schule für Hochbegabtenförderung, yang kebetulan letaknya juga tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Tidak seperti di Gymnasium lainnya, di sini dilakukan seleksi. Untuk melakukan seleksi, Gymnasium tersebut mengadakan acara diberinama "Auswahlwochenende".
bersambung.......